Saya

Hari ini hari rabu. Jangan harap ada hal spesial dari hari ini hanya karena ku membuka kalimatku dengan sebuah nama hari. Karena buatku, tiap hari sama saja. Sama-sama gitu-gitu saja, tidak ada yang spesial. Sama-sama harus berada di bawah kaki orang, being looked down upon.

Hariku selalu dimulai dengan menunggu. Menunggui bapak tua penjaga klinik tempatku tinggal ini untuk membukakan pintu ruangan cuci sempit yang ku diami dan mengeluarkanku dari tempat kecil dan sumpek ini. Tak lama menunggu, ku dengar suara hentakan kaki yang terdengar renta tapi tak gentar, atau mungkin lebih tepatnya terburu-buru. Dan benar saja dugaanku itu, pak tua itu benar-benar sedang terburu-buru. Terbukti, saat membuka pintu, kulihat wajahnya yang sudah mulai dipenuhi garis-garis keriput dan bintik-bintik hitam khas penuaan itu penuh dengan peluh. Sambil terengah-engah kelelahan, ia buru-buru menarikku keluar dari tempat yang kecil yang ku benci ini. Entah kenapa, walaupun aku sudah lama mendiami tempat cuci ini, aku masih tidak bisa membiasakan diri dengan keadaannya yang lembab. Ditambah dengan langit-langit yang transparan yang selalu memberikan aura negatif (setidaknya bagiku). Pada siang hari, sinar matahari masuk tanpa ampun, bahkan sepertinya sinar sang surya tak perlu susah payah untuk membuatku kepanasan bukan main. Malamnya, aku harus melihat langit malam yang ku benci, bukan apa-apa, aku takut lihat hantu. Jadi tak heran lah setiap pagi, suara hentakan kaki pak tua itu tidak pernah gagal memunculkan sedikit rasa bahagia dalam hati ini. Walaupun aku tau, tempat yang akan kudatangi tidak lah lebih baik dari ruang cuci ini.

Akhirnya setelah dibawa berlari, menuruni tangga yang pendek, aku pun seperti biasa dilempar begitu saja, ke depan teras dekat pintu masuk klinik. Tidak, aku tidak merasa marah atau apapun. Karena inilah pekerjaanku, inilah aku. Aku hanya sebuah keset di depan sebuah klinik dokter yang setiap hari kerjanya hanya duduk, diinjak, digesek-gesek sepatu atau sendal. Syukur bila hujan tak turun, karena jika tidak, badan ku akan penuh dengan lumpur, becek, dan makin banyak orang yang akan menggesekan alas kakinya ke badanku. Tapi bisa dibilang aku tidak masalah dengan perlakuan macam ini. Karena aku tahu betul siapa aku dan apa yang aku harus lakukan. Karena aku, adalah dan hanyalah sebuah keset.

Advertisements

2 thoughts on “Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s